Umat Kristen sekarang selalu berkoar-koar dengan ajaran kasih mereka,seolah-olah agama mereka adalah ajaran kasih yang nyata.mereka sering menghujat agama Islam dengan sebutan “TERORIS”,Anarkis,Islam agama yang disebarkan dengan pedang dan bermacam-macam Fitnahan lainya.sebenarnya mereka menghujat agama Islam hanya karena perasaan iri hati dan dengki mereka kepada Agama Islam.mereka seolah-olah merasa agama merekalah yang paling kasih(((HueeK)).padahal jauh daripada itu agama merekalah agama yang paling sadis didunia melebihi sadisnya Zionis Yahudi!!!!
Nggak percaya???
Mari kita Bongkar semua Kebidaban agama mereka didunia,mulai dari sejarah(((yang-sudah berlalu))) hingga kebiadaban-kebiadan mereka dizaman modern ini.
Mari kita Bongkar semua Kebidaban agama mereka didunia,mulai dari sejarah(((yang-sudah berlalu))) hingga kebiadaban-kebiadan mereka dizaman modern ini.
Kebiadaban Kristen di Ambon bukan saja baru kali ini, “Penyerangan dan pembantaian umat Islam DIAMBON.”
Kerap kali dilakukan oleh TERORIS SAlIBIS.!!
Kerap kali dilakukan oleh TERORIS SAlIBIS.!!
SUMBER ARTIKEL http://dombagoblog.blogspot.com/
Unknown
enting, dia melakukan proses evakuasi istri dan anak-anaknya. Namun, Dith sendiri bersikeras tetap tinggal di Kamboja bersama Sydney H Schanberg, seorang koresponden The New York Times yang ditugaskan ke Asia Tenggara, agar tetap dapat meliput seluruh peristiwa. Dith yakin negerinya bisa selamat jika negara lain mengetahui tragedi yang terjadi dan merespons.Dith pun menjadi mitra jurnalistik Schanberg. Dia membantu menerjemahkan, mencatat, memotret, dan menolong Schanberg di tengah carut marut Kamboja. Ketika Phnom Penh jatuh pada 1975, segalanya berubah. Dith harus menyelamatkan Schanberg dan jurnalis Barat lain dengan cara membujuk para tentara yang menangkap mereka.Sayang, di tengah kondisi kalut, Dith harus menerima kenyataan dikirim ke kawas
an terpencil untuk bergabung dengan jutaan orang lain yang dipekerjakan sebagai budak. Schanberg terusir dari negeri ini dan Dith menjadi tawanan Khmer Merah. Beberapa tahun berselang, Schanberg menuliskan kisah Dith itu dalam sebuah artikel berjudul The Death and Life of Dith Pran (Kematian dan Kehidupan Dith Pran) di The New York Times.Kisah ini lantas diadaptasi menjadi film The Killing Fields (1984). Film yang membuka mata dunia tentang pembantaian di Kamboja. Film yang membuat Haing S Ngor, pemeran Dith Pran, menyabet gelar pembantu pria terbaik Academy Award satu di antara tiga Oscar.Dith Pran lahir pada 23 September 1942 di Siem Reap, Kamboja, di sebuah kota provinsi tak jauh dari kuil kuno di Angkor Wat. Dia belajar bahasa Prancis di sekolah dan menekuni bahasa Inggris secara otodidak. Berkat kemampuan berbahasa itu, Dith sempat menjadi penerjemah badan militer Amerika.Di awal 1970-an, ketika kekisruhan di Vietnam meluas dan Kamboja jatuh dalam perang sipil, Khmer Merah menjadi lebih kuat. Di saat itu, Dith sudah menjadi penerjemah para jurnalis asing. Ketika mendampingi Schanberg, dia belajar memotret. Saat Khmer Merah berkuasa, Dith menjadi bagian dari sebuah eksperimen sosial yang mengerikan berupa pengusiran ratusan ribu orang dari kota dan penindasan kaum terdidik untuk mewujudkan Kamboja sebagai negara agraris.Demi menghindari eksekusi, Dith memilih untuk menyembunyikan identitasnya. Dia menjadi sopir taksi, membuang hartanya, dan berpakaian seperti petani. Lebih dari empat tahun, dia melakukan pekerjaan kasar. Dith merasakan tahun-tahun yang penuh pukulan, kerja keras tanpa batas, dan makanan yang hanya berupa satu sendok makan nasi setiap hari. Hingga November 1978, Vietnam menginvasi Kamboja dan menjungkalkan akar kuat Khmer Merah.




