Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

About

Popular Posts

Blogger templates

Blogger news

Blogroll

Senin, 02 Maret 2015

MENGUNGKAP DAN MEMBONGKAR FAKTA-FAKTA KEBIADABAN KRISTEN DI SELURUH DUNIA !!!


Umat Kristen sekarang selalu berkoar-koar dengan ajaran kasih mereka,seolah-olah agama mereka adalah ajaran kasih yang nyata.mereka sering menghujat agama Islam dengan sebutan “TERORIS”,Anarkis,Islam agama yang disebarkan dengan pedang dan bermacam-macam Fitnahan lainya.sebenarnya mereka menghujat agama Islam hanya karena perasaan iri hati dan dengki mereka kepada Agama Islam.mereka seolah-olah merasa agama merekalah yang paling kasih(((HueeK)).padahal jauh daripada itu agama merekalah agama yang paling sadis didunia melebihi sadisnya Zionis Yahudi!!!!

Tanggal 7 dan 8 April RTLM menyiarkan: “Anda harus membunuh [kaum Tutsi], mereka adalah kecoa …” Tanggal 13 Mei: “Anda yang sedang mendengarkan kami, bangkitlah agar kita dapat berjuang demi Rwanda kita… Bertempurlah dengam senjata yang Anda miliki; Anda yang memiliki panah, menggunakan panah, Anda yang memiliki tombak bertempurlah dengan tombak; Bawa alat-alat tradisional Anda … Kita semua harus melawan [bangsa Tutsi]; kita harus menghabisi mereka, membasmi mereka, buang mereka dari seluruh negara… Tidak boleh ada pengampunan bagi mereka, sama sekali.” Dan pada tanggal 2 Juli: “Saya tidak tahu apakah Tuhan akan membantu kita dalam membasmi [bangsa Tutsi]… namun kita harus bangkit untuk membasmi ras orang-orang jahat ini… Mereka harus dibasmi karena tidak ada cara lain.”

Unknown

The Killing Fields, Memoar Dith Pran

Sosoknya menghadirkan sebuah kategori khusus: Jurnalistik kepahlawanan.
Inilah neraka hidup itu. Dith Pran menyaksikan sendiri negerinya berubah di tengah cengkereman rezim Khmer Merah. Demi bertahan hidup, dia berpegang pada sebuah kredo: Jangan bergerak kecuali ada 50:50 kesempatan agar tidak terbunuh.Di tengah situasi genting, dia melakukan proses evakuasi istri dan anak-anaknya. Namun, Dith sendiri bersikeras tetap tinggal di Kamboja bersama Sydney H Schanberg, seorang koresponden The New York Times yang ditugaskan ke Asia Tenggara, agar tetap dapat meliput seluruh peristiwa. Dith yakin negerinya bisa selamat jika negara lain mengetahui tragedi yang terjadi dan merespons.Dith pun menjadi mitra jurnalistik Schanberg. Dia membantu menerjemahkan, mencatat, memotret, dan menolong Schanberg di tengah carut marut Kamboja. Ketika Phnom Penh jatuh pada 1975, segalanya berubah. Dith harus menyelamatkan Schanberg dan jurnalis Barat lain dengan cara membujuk para tentara yang menangkap mereka.Sayang, di tengah kondisi kalut, Dith harus menerima kenyataan dikirim ke kawasan terpencil untuk bergabung dengan jutaan orang lain yang dipekerjakan sebagai budak. Schanberg terusir dari negeri ini dan Dith menjadi tawanan Khmer Merah. Beberapa tahun berselang, Schanberg menuliskan kisah Dith itu dalam sebuah artikel berjudul The Death and Life of Dith Pran (Kematian dan Kehidupan Dith Pran) di The New York Times.Kisah ini lantas diadaptasi menjadi film The Killing Fields (1984). Film yang membuka mata dunia tentang pembantaian di Kamboja. Film yang membuat Haing S Ngor, pemeran Dith Pran, menyabet gelar pembantu pria terbaik Academy Award satu di antara tiga Oscar.Dith Pran lahir pada 23 September 1942 di Siem Reap, Kamboja, di sebuah kota provinsi tak jauh dari kuil kuno di Angkor Wat. Dia belajar bahasa Prancis di sekolah dan menekuni bahasa Inggris secara otodidak. Berkat kemampuan berbahasa itu, Dith sempat menjadi penerjemah badan militer Amerika.Di awal 1970-an, ketika kekisruhan di Vietnam meluas dan Kamboja jatuh dalam perang sipil, Khmer Merah menjadi lebih kuat. Di saat itu, Dith sudah menjadi penerjemah para jurnalis asing. Ketika mendampingi Schanberg, dia belajar memotret. Saat Khmer Merah berkuasa, Dith menjadi bagian dari sebuah eksperimen sosial yang mengerikan berupa pengusiran ratusan ribu orang dari kota dan penindasan kaum terdidik untuk mewujudkan Kamboja sebagai negara agraris.Demi menghindari eksekusi, Dith memilih untuk menyembunyikan identitasnya. Dia menjadi sopir taksi, membuang hartanya, dan berpakaian seperti petani. Lebih dari empat tahun, dia melakukan pekerjaan kasar. Dith merasakan tahun-tahun yang penuh pukulan, kerja keras tanpa batas, dan makanan yang hanya berupa satu sendok makan nasi setiap hari. Hingga November 1978, Vietnam menginvasi Kamboja dan menjungkalkan akar kuat Khmer Merah.
Dith pun kembali ke kampung halamannya di Siem Reap. Di sanalah pemandangan mengenaskan itu terhampar. Sekitar 50 anggota keluarganya terbunuh, sumur-sumur terisi penuh dengan tengkorak dan mayat. Puncaknya adalah pada 3 Oktober 1979, Dith berhasil melarikan diri melewati perbatasan Thailand. Setelah tahun demi tahun berlalu tanpa mendengar kabar dari Dith, Schanberg mendengar kabar menggembirakan pelarian Dith. Dia sendiri telah mendapat Pulitzer berkat reportasenya di Kamboja. Schanberg menerimanya atas nama Dith juga. Schanberg menerima kedatangan sang sahabat dengan tangan terbuka. Di San Francisco, AS, Dith bertemu dengan istri dan keempat anaknya. Dith pun memulai hidup baru dengan pindah ke New York. Pada 1980, dia menjadi fotografer The New York Times. Hasil bidikannya amat imajinatif. Ketika merekam kematian seorang tokoh masyarakat yang terbunuh, Dith lebih suka memotret para wajah duka para pelayat ketimbang membidik peti mayat. ''Kita harus menjadi sebuah nanas yang memiliki ratusan mata,'' ujar Dith mengungkap teori foto jurnalistiknya. Di luar kerja jurnalistik, Dith tetap berteriak lantang menentang pembantaian Kamboja. Akibat kanker pankreas yang menggerogotinya, Dith Pran mengembuskan napas terakhir di usia 65 tahun. Menjelang kematiannya, Dith berusaha membentuk sebuah organisasi baru untuk membantu Kamboja. Pada 1997, dia menerbitkan sebuah buku berisi kumpulan esai warga Kamboja yang menjadi saksi selama bertahun-tahun menghadapi teror rezim kejam. Sepanjang hidupnya, Dith berdedikasi untuk menghentikan segala bentuk pembantaian di dunia. Bill Keller, editor eksekutif The Times, mengenang Dith. ''Untuk kita semua yang bekerja sebagai wartawan asing di kawasan konflik, Dith Pran mengingatkan kita pada satu kategori jurnalistik kepahlawanan. Dialah mitra lokal, penerjemah, sopir, perantara, yang tahu segala simpul, yang membuat kerja kita mudah, seorang teman yang menyelamatkan hidup, berbagi sedikit kebahagiaan, dan menghadapi semua bahaya.'' Dalam sebuah wawancara terakhir, Dith sempat mengungkap keinginan agar ada orang yang mau melanjutkan kerjanya. ''Bila ini terjadi, arwahku akan tenang.' nyt/neh

Sumber artikel http://go-budi.blogspot.com/2008/06/killing-fields-memoar-dith-pran.html
Unknown
Minggu, 01 Maret 2015

Akhirnya Asal-Usul Bahasa Arab Ditemukan

Prasasti tentang bahasa Arab baru terungkap dengan ditemukannya ukiran-ukiran tulisan yang beranama “al-Nimarah” di dekat kota Damaskus yang bertanda tahun 328 M. Walaupun ditemukan prasasti yang mengungkap misteri sejarah tentang asal-usul dan kapan dimulainya adanya bahasa Arab. Tetapi, masih ada diantara para ahli yang masih bersikap skeptis dengan pemikiran tersebut untuk dijadikan kepastian telah adanya bahasa Arab pada masa itu, karena sebagian besar kata-kata yang terukir dalam prasasti tersebut hanyalah nama-nama orang saja. Menurut pendapat mereka, sebaiknya untuk menentukan asal-usul dan kapan dimulainya ada bahasa Arab, kiranya cukup berpedoman kepada teks-teks dari sastra Jahiliyah yang tidak diragukan kebenarannya untuk menjelaskan keadaan-keadaan bahasa Arab sebelum datangnya agama Islam.
Dari kedua pendapat tersebut di atas, tentang asal usul bahasa Arab tersebut sebenarnya tidak terlalu berbeda. Adapun pendapat yang menjadikan ukiran al-Nimarah yang bertanda tahun 328 M. dan pendapat yang menjadikan teks-teks Jahiliyah sebagai patokan awal adanya atau dimulainya bahasa Arab yang seperti kita kenal adalah sama atau berdekatan tahunnya. Eksistensi ukiran al-Nimarah bertanda tahun 328 M, sedangkan Nabi Muhammad SAW dilahirkan tahun 571 M. sementara itu syair-syair Jahiliyah yang dikenal dalam Nushush al-Adab al-‘Arabi, pengarangnya hidup antara abad ke-4 dan ke-6. Dengan demikian, perbedaan tahun tidak perlu lagi dipermasalahkan. Yang tinggal hanya perbedaan tentang keberadaan ukiran al-Nimarah sebagai prasasti yang menunjukkan telah adanya bahasa Arab pada saat itu, sementara prasasti al-Nimarah hanya memuat nama-nama orang saja. Oleh karena itu, orang-orang yang meragukan telah adanya bahasa Arab saat-saat itupun tidak dapat disalahkan, dan juga pendapat yang menjadikan al-Nimarah sebagai indikasi telah adanya bahasa Arab pada saat itu, juga tidak dapat disangkal kebenarannya.
arab

Sumber artikel http://www.tempokini.com/2014/08/akhirnya-asal-usul-bahasa-arab-ditemukan/

Unknown

Cara Membuat Animasi GIF Dengan Photoshop


Cara Membuat Animasi GIF Dengan Photoshop
animation_frame
langkah_4_1
langkah_4_2
save_for_web
Kamu mau belajar desain grafis? IDS | International Design School menyediakan Sekolah Desain dan Kursus Desain lho. Kamu juga bisa meraih gelar bachelor dari Universitas ternama di luar negeri.

kunjungi artikel resminya di http://www.idseducation.com/2014/04/25/cara-membuat-animasi-gif-dengan-photoshop/
Unknown

Cara Membuat Banner Iklan Animasi / Bergerak Dengan Photoshop


Posted by Ali Muakhor Posted on Monday, July 07, 2014 with 21 comments
Pada kesempatan ini akan kita bahas bagaimana cara membuat banner dengan bentuk animasi atau gambar bergerak dengan mengunakan software Photoshop CS 3, bisa juga menggunakan Photoshop CS2. Untuk artikel kali ini akan kami berikan contoh gambar Banner Iklan Animasi / Bergerak format GIF di bawah ini. Untuk cara membuat gambar bisa dilihat di sini  :

Link Banner
Gambar di atas terdiri dari tiga gambar yang di gabungkan menjadi satu, dari gambar di atas terlihat yang bergerak hanya tulisan Clik Here atau Klik Disini yang berkedip-kedip. Jika di pisah / di urai gambar di atas akan seperti di bawah ini  :
 


(Baca Cara Memotong Gambar Dengan Menggunakan Photoshop)

Kunjungi artkel resminya di http://kupastutorial.blogspot.com/2014/07/cara-membuat-banner-iklan-animasi.html
Unknown